Perang Dingin
Istilah “Perang Dingin”
diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman
dari Amerika Serikat untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara
Amerika Serikat dan Uni Soviet. Seperti yang duniabaca.com pelajari
dari wikipedia, Perang Dingin (1947-1991) adalah
sebutan bagi sebuah periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan
kompetisi antara Amerika Serikat (beserta sekutunya disebut Blok Barat)
dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok Timur) yang terjadi
antara tahun 1947—1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang:
koalisi militer; ideologi, psikologi, dan tilik sandi; militer,
industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir dan
persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir
dengan perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi.
Penyebab dan Proses Awal Mula Terjadinya Perang DinginPerang Dingin antara Amerika Serikat (USA) dan sekutu-sekutunya di satu pihak dan Uni Soviet (USSR) serta kawan-kawannya di pihak lain berawal dari masalah penyelesaian Perang Dunia II (PD II). Dalam PD II tersebut, USA dan USSR berada dala satu Sekutu dan memenangkan perang terhadap Jerman, Italia, dan Jepang.
Ternyata, kemenangan total Sekutu
tersebut tidak diikuti dengan terciptanya perdamaian sejati. Persekutuan
USA dan USSR ditandai dengan perbedaan ideologi yang kontras antara
kapitalis-liberalis dan komunis. Keduanya berseteru setelah perang
melawan Hitler, Musolini, dan kawan-kawan berakhir. Konferensi antara
Stalin (USSR), Roosevelt (USA) dan Churchill (Inggris) yang dikenal
dengan The Big Three atau Tiga Besar yang diselenggarakan di kota Iran,
Teheran (Konferensi Teheran), pada November 1943, merupakan faktor yang
paling berpengaruh terhadap kejadian-kejadian berikutnya. Dalam
konferensi tersebut, mereka menyatakan untuk menghancurkan Jerman dan
berusaha mencari strategi militer terbaik.
Pada Konferensi pasca perang di Postdam
(Juli 1945), perbedaan yang berlangsung lama mengenai Eropa Timur,
akhirnya muncul kembal lebih jelas, Presiden USA, Harry S. Truman,
memiliki kebijaksanaan berbeda dengan pendahulunya. Dia menginginkan
diselenggarakannya pemilu yang bebas di seluruh negara-negara di Eropa
Timur. Stalin menolak usulan tersebut dengan mengatakan “Sebuah
pemerintahan yang dipilih secara bebas di Eropa Timur akan membentuk
pemerintahan anti Uni Soviet dan kami tidak akan mengizinkannya.”
Perbedaan pandangan antara Uni Soviet
dan USA dalam Konferensi Posdam tersebut dianggap sebagai kunci asal
mula Perang Dingin. Sikap orang-orang Amerika Serikat yang dipengaruhi
oleh “perang suci” terhadap Hitler dan pandangan politik di Amerika yang
diperngaruhi oleh jutaan pemilih dari negara-negara Eropa Timur,
menginginkan diadakannya pemilu yang bebas di negara-negara yang telah
diduduki oleh Uni Soviet. Di pihak lain, Stalin, yang merasakan dan
menyaksikan sendiri negerinya hancur akibat dua serangan raksasa pasukan
Nazi Jerman menginginkan keamanan militer yang total dari Jerman dan
sekutu-sekutu potensialnya di Eropa Timur untuk selamanya. Stalin
percaya bahwa hanya negara-negara komunis yang dapat menjadi sekutu
sejati bagi Uni Soviet Oleh karena itu, Stalin khawatir bahwa pemilu
yang bebas akan menghasilkan pemerintahan yang bermusuhan dengan USSR di
perbatasan sebelah barat. Sejak pasukan Stalin menduduki negara-negara
timur, Stalin merasa harus konsisten dengan keyakinannya.
Jawaban USA terhadap konsep keamanan
Stalin, yang tampaknya berlebihan, mulai terlihat. Pada Mei 1945,
sebelum diselenggarakan konferensi Postdam, Truman mengusulkan
dihentikannya semua bantuan ke USSR. Pada Oktober 1945, Truman
menyatakan bahwa USA tidak akan mengakui suatu pemerintahan yang
didirikan dengan paksa dan tidak mengabaikan aspirasi politik rakyatnya.
Pada Maret 1946, mantan PM Inggris,
Churchill, ketika mengunjungi USA, menyatakan di depan publik Amerika
bahwa “tirai besi” telah digelar diseluruh daratan Eropa dengan membagi
Jerman dan Eropa ke dalam dua kubu yang saling berlawanan. Segera
setelah itu muncul kembali sikap emosional dan sikap mencela orang
Amerika terhadap Stalin serta Uni Soviet. Sikap tersebut kemudian
menjadi bagian dari kehidupan politik Amerika di era Perang Dingin. USA
sendiri meresponnya dengan melakukan mobilisasi di berbagai bidang
dengan cepat.
Agen-agen rahasia Stalin diseluruh dunia
memanaskan situasi dengan mengungkapkan pentingnya “perjuangan ideologi
melwan imperialisme kapitalis.” Partai Komunis besar dan terorganisasi
dengan baik di Italia dan Prancis mengungkapkan rencana Amerika Serikat
untuk mengambil alih Eropa dan dengan agresif menentang pemerintahan
mereka melalui cara-cara kekerasan dan pemogokan. Uni Soviet juga
melakukan tekanan terhadap Iran dan Turki yang terlalu pro Amerika.
Perang sipil yang disponsori USA juga terjadi di Yunani dan Cina. Sejak
musim semi 1947, di mata Amerika, Uni Soviet telah berusaha mengeskpor
komunisme dan melakukan kegiatan sebversi ke negara-negara Eropa Barat.
Untuk menyikapi USSR, Amerika melalui
Doktrin Presiden Truman melaksanakan politik containing atau pengepungan
terhadap komunisme di kawasan yang sudah dikuasai oleh Tentara Merah.
Truman meminta kepada Kongres USA untuk mengirimkan bantuan militer ke
Yunani dan Turki. Agar negara-negara Barat tidak jatuh ke tangan
komunis, USA juga menawarkan program bantuan kepada negara-negara Eropa
melalui Marshall Plan.
Stalin menolak program bantuan Marshall
Plan bagi semua negara-negara Eropa Timur. Sebagai jawaban terhadap
rencana tersebut, Stalin segera membersihkan unsur-unsur nonkomunis
dalam tubuh pemerintahan Eropa Timur dengan membentuk sistem
Pemerintahan Soviet, satu partai diktator komunis. Pendudukan
Cekoslovakia pada Februari 1948, merupakan jawaban Uni Soviet terhadap
sikap USA.
Pendudukan tersebut menimbulkan
kekhawatiran terhadap semakin berkembangnya komunisme di Eropa yang
dimulai dari negara-negara Eropa Timur dan Jerman. Ketika Stalin
memblokade semua lalu lintasbarang dab manusia dari zone pendudukan
Barat di Jerman ke Berlin Barat, Sekutu meresponya degan melakukan
“jembatan udara”, mendrop bahan makanan dengan pesawat terbang ke Berlin
Barat. Selama 324 hari “jembatan udara” mengangkut berton-ton bahan
makanan ke Berlin sebagai bentuk pelaksanaan politik cotaining.
Pada 4 April 1949, Amerika Serikat
berhasil membujuk negara-negara Eropa Barat untuk menandatangani
pendirian suatu pakta pertahanan yang dikenal dengan nama North Atlantic
Treaty Organization(NATO) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara.
Anggotanya terdiri atas Inggris, Irlandia, Islandia, Norwegia, Denmark,
Belgia, Belanda, Luxemburg, Prancis, Portugal dan Kanada serta Amerika
Serikat. Segera setelah itu pada 1955, Uni Soviet juga mengikat
negara-negara satelitnya di Eropa Timur yang berhaluan komunis dalam
Pakta Warsawa. Anggotanya terdiri atas Unis Soviet, Albania, Bulgaria,
Cekoslovakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia dan Rumania. Dengan
adanya pakta petahanan, kedua pemimpin blok militer berlomba-lomba
saling mengembangkan senjata, memata-matai dan mempertahankan pegaruhnya
bersama sekutunya masing-masing yang sengaja ditujukan untuk menghadapi
ancaman NATO.
(Sumber: terbentuknyaaliansi-aliansididunia.blogspot.com)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar